The Black Book of Colors by Menena Cottin
I stumbled across this while looking for a book for my cousin’s new baby. I was so...
“our boredom, ourselves” by paul sahre and jonas beuchert
Truth.
konon laki laki pertama yang bilang padaku “aku suka kamu” ini juga akan segera melangsungkan pernikahannya. dengan pacarnya, tentu saja.
you’re...
He is the Master
Submitted by baizooka
dalam salah satu page FB yang saya follow, bernama “Yuk Shalat Dhuha”, banyak tautan dari blog ini. Suatu hari, dengan keadaan hati saya yang memang lagi futur tingkat ajaib, dan keras, beku tingkat minus sekian derajat sama Alloh :( saya liat postingan ini. Dengan tautan ke blog tersebut sedikit tersindir bacanya. (Yg bener aja, udah disindir sama Yang Nyindir, masih aja “agak kesindir”). Kenapa judulnya pas? Ya Alloh kenapa pas sama saya? Dari sekian juta postingan news feed, kenapa mata saya nangkep yang satu itu? Mendadak saya ingat tentang “the only relationship that wouldn’t ever break your heart is with Alloh”. Dan segala sesuatu memang ga ada yang kebetulan.
Coba : saya yang ninggalin, eh saya yang dipancing- pancing diminta balik lagi sama apa yang saya Tinggalin. Musti alhamdulilah atau gimana ya?
Terimakasih ya Alloh.
Teh! teh! satu satunya minuman berkafein yang bikin rileks, ngga seperti kopi yang bikin gahar (itu “teh! teh!” jangan ada yg merasa terpanggil ya kalo umurnya lebih tua dari saya) (naon si).
Di suatu pagi hari, sudah lama sekali. Saya duduk berhadapan dengan nenek saya, yang saya panggil “mbah”. Di meja makan, saya ngemil kue mangkok, dan mbah minum secangkir kopi pahit, dengan gundukan- gundukan berwarna coklat berpasir yang ditampung di sekeliling piring tatakan cangkir (eh saya lupa namanya apa. Kalo ga “pisin” atau gampangnya “piring ceper” ).
Benda tersebut adalah gula merah. Brown sugar. Atau bahasa kerennya : palm suiker. (Keren gitu? biasa aja da *loh). Ada yang menarik dengan penerapan gula merah dalam episode duduk bareng mbah tersebut, karena gulanya bukan gula pasir dan ga dicampur langsung ke kopinya.

Beginilah cara mbah minum kopi tersebut :
Kulum sebutir pecahan gula merah, seperti makan permen. Seruput kopi pahitnya. Dah selesai (haha meuni teu rame) Eh bntar dulu. Rame tauu. So, rasa manis akan didapat sekilas dari gula merah yang udah ada di mulut tadi. Saya gatau ini cara minum kopi dari daerah mana, tapi yang jelas, saya tertarik sekali, karena kayaknya nikmatt bangett waktu liat mbah melakukan ritual yang hanya dilakukan kalo mbah agak- agak masuk angin ini. Kayanya ada sesuatu yang beda, dan ga cuma sekadar menikmati kopi. Dan saya yakin, di dalam mulut, setelah kopi diseruput, pasti ada sensasi “rame” antara kopi pait diawal, dan gajadi pait setelah sampe ditengah lidah. Difusing with the brown sugar :D Kebayang kan? :) Ada cerita dan “rasa” lain disitu. Mungkin hampir sama seperti makan yamin kering. Ada semangkok mie-nya, dan ada satu mangkok lain tempat kuah, baso, dan sayuran. Ada experience lain aja rasanya, ketika makan mie keringnya, trus nyeruput kuah dari tempat yang beda. (Anyway, saya pernah makan bareng temen, dia nuangin kuah yamin dimangkok terpisah itu langsung ke mangkok mie-nya, semuanya sama baso2nya dan sayurnya sekalian T___T haha ribet katanya. Maklum cowo :p )
Mengingat memori tersebut, saya juga penasaran gimana rasanya. Dan saya coba (ini juga udah lamaa banget). Persis saya coba kayak yg mbah lakukan dulu. Bedanya, saya bukan minum kopi. Saya iseng nyoba di teh. Tehnya saya kasi gula sedikit. Jaga2 kalo eksperimen ini gagal :p Biar kalo gaenak, saya tinggal abisin tehnya. Pas dicoba…… wihhhh wihhh. You must try :) apalagi teh-nya teh melati, atau teh dengan aroma- aroma khusus. Berhubung memang di set jangan terlalu manis, jadi musti dikonsenin di aroma. Dan aroma gula merahnya itu sndiri, tradisional eksotik dan bikin ngiler :D Intinya, that would be a great experience for tea lover.
Dan malam tadi, saya kembali iseng. Teh yang dikonsumsi keluarga saya, namanya teh Prendjak. Ada yang pake teh ini juga? Wanginya enak banget. Gatau wangi apa, tapi di hidung saya sperti wangi mawar pekat tapi lembut, dan nyampur sama daun teh-nya. Dan ada semu- semu wangi vanili juga :D bikin senyum dan bikin rileks, dan bikin pantat susah diangkat dari kursi makan alias betah lama- lama duduk padahal tehnya juga udah abis. Bisa didapat di supermarket2 terdekat (lho kok jadi iklan). Yang jelas, merk2 terkenal semacam Sariwangi, Sosro, Kepala Djenggot, Poci, Upet, lewat semua kalo buat saya. Hehe. Ini gambarnya, kalo- kalo ada yang mau nyari :D


Eksperimen yang saya coba yaitu : kembali bikin teh panas dengan sedikit skali gula. Giliran cari- cari gula merah.. eh kok ngga ada? TT mau tanya mbah, udah tidur. Diem bntar. Mikir. Mikir. CRINGGG! AHA! EHE hehe. Saya buka kulkas, dan motong sekotak coklat Silverqueen almond. Saya perlakukan doski seperti gula merah dalam ritual mbah minum kopi pahit. Gigit coklat sedikit, seruput teh panasnya, dan…..coklat melumer pelan- pelan dimulut, seiring “tersiram” seruputan teh panas-anget. Dan pas coklatnya habis, tentunya ada sensasi renyah2 gurih almond yang kesisa. You definitely must try :) serius inimah. Ditambah wangi teh Prendjak yang bikin merem melek merem ngga melek2 *zz inimah ngantuk* TT
Tea lover, try this one :) better with teh Prendjak atau teh aromaterapi.
Alhamdulillah.
I love how bright her smile is!
(via thebeautyofislam)
:)
(via animalia)
jangan keseringan “nyiramin” lapak tetangga. “siramin” dulu lapak sendiri :p
source : violette-design
Every one of you is a precious human being with the potential to do anything you want to do in life. Every. Single. One of you. Don’t let anyone stop you from completing your goals, changing the world, leaving your mark. Not even your negative self. Keep breathing, keep cheering, keep doing what’s right in the world. Be kind. Smile. Don’t ever stop being you. Life’s truly a great adventure: enjoy the ride.
(via happythings)
IYA!
(via happythings)
Sinaia, Romania via Mr Jack Skellington